Selasa, 16 Maret 2010

kajian gender dalam Al-Qur'an

MENGENAL LEBIH DEKAT ANATOMI AL-QURAN


A. Latar Belakang
Al-Quran pada hakikatnya menempati posisi sentral dalam studi-studi keislaman. Di samping berfungsi sebagai huda (petunjuk), Al-Quran juga berfungsi sebagai furqan (pembeda). Ia menjadi tolok ukur dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan, termasuk dalam penerimaan dan penolakan setiap berita yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw.
Keberadaan Al-Quran di tengah-tengah umat Islam, ditambah dengan keinginan mereka untuk memahami petunjuk dan mukjizat-mukjizatnya, telah melahirkan sekian banyak disiplin ilmu keislaman dan metode-metode penelitian. Ini dimulai dengan disusunnya kaidah-kaidah ilmu nahwu oleh Abu Al-Aswad Al-Dualiy, atas petunjuk 'Ali ibn Abi Thalib (w. 661 M), sampai dengan lahirnya ushul al fiqh oleh Imam Al-Syafi'i (767-820 M), bahkan hingga kini, dengan lahirnya berbagai metode penafsiran Al-Quran (yang terakhir adalah metode mawdhuiy atau tawhidiy).
Di sisi lain, terdapat kaum terpelajar Muslim yang mempelajari berbagai disiplin ilmu. Ini antara lain didorong keinginan untuk memahami petunjuk; informasi dan mukjizat Al-Quran. Karena Al-Quran berbicara tentang berbagai aspek kehidupan serta mengemukakan beraneka ragam masalah, yang merupakan pokok-pokok bahasan berbagai disiplin ilmu, maka kandungannya tidak dapat dipahami secara baik dan benar tanpa mengetahui hasil-hasil penelitian dan studi pada bidang-bidang yang dipaparkan oleh Al-Quran.
Makalah ini berupaya mendekatkan kita dengan Al-Quran dalam konteks anatominya, yang melingkupi pengertian, tujuadan fungsi, cara turunnya serta pokok isi kandungannya. Hal ini mengingat untk beranjak lebih jauh ke dalam perkembangan ilmu-ilmu yang terkait dengan al-Quran , pemahman hal-hal substansial mengenai anatomical-Quran merupakan suatu keniscayaan untuk menegaskan obyek utama, yakni al-Quran itu sendiri.
B. Pembahasan
1. Pengertian Al-Quran
Secara etimologi,al-Quran merupakan masdar yang makna sinonimnya dengan kata qira’ah (bacaan). Al-Quran dengan arti qira’ah ini, sebagaimana dipakai dalam Q. S al Qiyamah (75) ayat 17, 18.
Selain berarti bacaan, secara bahasa al-Quran juga diberi arti lain. Paling tidak selain Lihyani (w.355H) yang berpendapat sebagaimana arti di atas, terdapat pendapat lain dari para ulama seperti Az Zujaj (w 311),yang berpendapat bahwa lafal al-Quran berupa isim sifat, ikut wazan fu’lan, yang diambil dari kata al qar’u yang berarti kumpul pula. Menurutnya, memang dalam al-Quran kumpul semua semua ayat, surah, hukum dan kisah-kisah. Sedangkan, al Farra’(w.207 H) berpendapat bahwa secara bahasa al-Quran adalah bukti,karena ia merupakan isim musytaq ikut wazan fu’lan, diambil dari kata al qara’in, bentuk jama’qarinah. Adapun Imam Syafi’i (w 204 H), berpendapat lafal al-Quran bukan isim musytaq, mahmuz, namun merupakan isim murtajal, yaitu isim alam (nama), yakni nama kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan selalu disertai alif lam atau ”al”. Ketiga ulama tersebut , lafal-Quran ditulis dan dibaca tanpa huruf hamzah, berbeda menurut Lihyani bahwa lafal-Quran ditulis dan dibaca dengan memakai huruf hamzah .Namun dari beberapa pendapat tersebut, pendapat bahwa al-Quran secara bahasa berarti bacaan lebih masyhur digunakan.
Selain dinamakan al-Quran, kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad tersebut juga dinamakan al- Furqon (pemisah antara yang haq dan batil), al- kitab ( lihat Q.S Al- Baqarah(2)::2), al- Dzikr (Q.S Al- Anbiya(21):50) dan a-l Tanzil(Q.S Al Haaqoh(68):43)
Al-Quran dan al kitab lebih masyhur dari nama-nama lain, mengingat kedua nama tersebut menunjukkan makna yang sesuai dengan kenyataannya menurut Dr. Muhammad Abdullah Daraz . Sekaligus terdapat isyarat dalam dua penamaan tersebut, yakni selayaknyalah ia dipelihara dalam bentuk hafalan dan tulisan.Penjagaan ganda inilah yang telah dilakukan sejak masa wahyu al-Quran pertama kali diturunkan pada masa Nabi dan diteruskan dari generasi ke generasi. Dari hal tersebut kemurnian al-Quran akan terjaga sebagaimana janji Allah dalam Q.S al Hijr (15) :9.
Ada sebagian ulama yang terlalu banyak memberikan nama al-Quran, Az Zarkasyi, misalnya dalam kitabnya, Al Burhan , beliau mengatakan bahwa nama al-Quran ada 55 macam. Bahkan ada ulama yang memberi nama sampai 99 nama, sebagaimana disebutkan pengarang Tibyan.Menurut sebagian ulama, termasuk Shubhi al –Shalih, banyaknya penamaan seperti itu lebih disebabkan tidak dibedakannya antara nama dan sifat yang ada dalam al-Quran. Seperti disebutkannya al-Quran dengan sebutan karim, nur, basyir, majid, huda, syifa’, rahmah, mauidhah serta mubarok yang jelas merupakan suatu sifat, bukan nama.
Sedangkan menurut terminologi, al-Qur’an mempunyai arti sebagai berikut. Pertama, para mutakallimin berpendapat al-Qur’an adalah kalimat-kalimat Maha Bijaksana yang tersusun dalam lafad-lafad, dzihniyyah dan ruhiyah. Atau al-Quran adlah lafal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dari awal surah al Fatihah sampai al- Nas,yang memiliki keistimewaan yang terlepas dari sifat-sifat kebendaan yang azali.
Kedua, para ulama ushulliyyin, fuqoha dan ahli bahsa berpendapat al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw mulai awal al-Fatihah sampai Al-Nas. Di antara mereka ada yang memberikan definisi secara singkat dan padat dan ada pula yang secara panjang lebar mendefinisikan al-Quran dalam beberapa identitasnya. Salah satu yang memberikan definisi panjang lebar tersebut adalah Syekh Ali Al-Shabuni yang berpendapat bahwa secara definisi al-Qur’an adalah kalam mu’jiz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw yang tertulis dalam mushaf yang diriwayatkan secara mutawatir, membacanya adalah ibadah. Dan dari kata-kata ” diturunkan kepada nabi Muhammad saw” mengecualikan hal selain yang diturunkan kepada Nabi Muhaammad, termasuk kitab Taurat, Zabur, Injil serta hadis Nabi. Kata-kata ”diriwayatkan secara mutawatir” mengecualikan semua hal qiraat yang tidak mutawatir. Sedangkan kata-kata ”membacanya merupakan ibadah” mengecualikan hadis-hadis qudsi meski diriwayatkan secara mutawatir.
2.Tujuan dan Fungsi Al-Quran
Tujuan Al-Quran juga berbeda dengan tujuan kitab-kitab ilmiah. Untuk
memahaminya, terlebih dahulu harus diketahui periode turunnya Al-Quran.
Dengan mengetahui periode-periode tersebut, tujuan-tujuan Al-Quran akan
lebih jelas.
Para ulama 'Ulum al-Quran membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam dua periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah.
Ayat-ayat yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan
ayat-ayat yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah.
Tetapi, di sini, akan dibagi sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode,
meskipun pada hakikatnya periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut
adalah kumpulan dari ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat
Madaniyyah. Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok
Al-Quran.

Pada periode pertama, kandungan wahyu Ilahi berkisar dalam tiga hal. Pertama, pendidikan dan bimbingan bagi Rasulullah saw., dalam membentuk kepribadiannya.Beberapa ayat tersebut antara lain bisa disimak pada (Q.S Al Mudatsir (74)::1-7)., (Q.S Al- Muzammil( 73):1-4)., (Q.S Al-Syuara(’26):214-216 .Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af’al Allah, misalnya surah Al-A'la (surah ketujuh yang diturunkan) atau surah Al-Ikhlash, yang menurut hadis Rasulullah "sebanding dengan sepertiga Al-Quran", karena yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan mengetahui pula persoalan-persoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah SWT. Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiyah serta bantahan-bantahan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliyyah ketika itu. Ini dapat dibaca, misalnya, dalam surat al Takatsur, satu surat yang mengecam mereka yang menumpuk-numpuk harta dan surat al Ma’un yang menerangkan kewajiban terhadap fakir miskin dan anak serta pandangan agama mengenai hidup bergotong royong.
Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan
bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi
tersebut nyata dalam tiga hal pokok, sebagaian menerima dengan baik ajaran Qur’an, sebagian besar menolak Namun walau demikian dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Mekkah menuju daerah-daerah sekitarnya.
Adapun pada periode kedua dari sejarah turunnya Al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan jahiliah.Gerakan oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk menghlangi laju dakwah Islam.
Periode ini dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran Al-Quran ketika itu terpaksa berhijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka semua --termasuk Rasulullah saw.-- berhijrah ke Madinah. Pada masa tersebut, ayat-ayat Al-Quran, di satu pihak, silih berganti turun menerangkan kewajiban-kewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi dakwah ketika itu, seperti: firman Allah dalam Q.S Al Nahl (16:125. Dan, di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan ancaman yang pedas terus mengalir kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran, seperti: terdapat dalam Q. S Fushilat (41):13.
Selain itu, turun juga ayat-ayat yang mengandung argumentasi-argumentasi mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat berdasarkan tanda-tanda yang dapat mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti: (Q.S Yaasin(36):78-82). Ayat ini merupakan salah satu argumentasi terkuat dalam membuktikan kepastian hari kiamat.
Disini terbukti bahwa ayat-ayat Al-Quran telah sanggup memblokade paham-paham jahiliah dari segala segi sehingga mereka tidak lagi mempunyai arti dan kedudukan dalam rasio dan alam pikiran sehat.

Terakhir, pada periode ketiga, dakwah Al-Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi besar karena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas
melaksanakan ajaran-ajaran agama di Yatsrib (yang kemudian diberi nama
Al-Madinah Al-Munawwarah). Periode ini berlangsung selama sepuluh tahun, di
mana timbul bermacam-macam peristiwa, problem dan persoalan, seperti:
Prinsip-prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat demi mencapai
kebahagiaan? Bagaimanakah sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl Al-Kitab,
orang-orang kafir dan lain-lain, yang semua itu diterangkan Al-Quran dengan
cara yang berbeda-beda?
Dengan satu susunan kata-kata yang membangkitkan semangat seperti berikut ini, dalam Q.S Al-taubah (9):13-14, juga terkadang pula merupakan perintah tegas dengan konsiderannya, seperti: terdapat dalam Q.S
Al-maidah (5):90-91). Disamping itu, secara silih-berganti, terdapat juga ayat yang menerangkan akhlak dan suluk yang harus diikuti oleh setiap Muslim dalam kehidupannya sehari-hari, seperti: dalam Q.S Al-Nuur(24):27.
Semua ayat ini memberikan bimbingan jalan kepada kaum Muslim menuju diridhai Tuhan disamping mendorong mereka untuk berjihad di jalan Allah, sambil memberikan didikan akhlak dan suluk yang sesuai dengan keadaan mereka dalam bermacam-macam situasi (kalah, menang, bahagia, sengsara, aman dan takut). Dalam perang Uhud misalnya, di mana kaum Muslim menderita tujuh
puluh orang korban, turunlah ayat-ayat penenang seperti firmanNya dalam Q.S Al Ma’idah (3):139-140.
Selain ayat-ayat yang turun mengajak berdialog dengan orang-orang Mukmin, banyak juga ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafik, Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Ayat-ayat tersebut mengajak mereka ke jalan sesuai dengan sikap mereka terhadap dakwah. Salah satu ayat yang ditujukan kepada Ahli Kitab adalah Q. S Ali Imran(3):63.
Dan ringkasan sejarah turunnya Al-Quran, tampak bahwa ayat-ayat Al-Quran sejalan dengan pertimbangan dakwah: turun sedikit demi sedikit bergantung pada kebutuhan dan hajat, hingga mana kala dakwah telah menyeluruh, orang-orang berbondong-bondong memeluk agama Islam. Ketika itu berakhirlah turunnya ayat-ayat Al-Quran dan datang pulalah penegasan dari Allah SWT tentang hal tersebut dalam Q.S Al Ma’idah(5):3.
Uraian di atas menunjukkan bahwa ayat-ayat Al-Quran disesuaikan dengan keadaan masyarakat saat itu. Sejarah yang diungkapkan adalah sejarah
bangsa-bangsa yang hidup di sekitar Jazirah Arab. Peristiwa-peristiwa yang
dibawakan adalah peristiwa-peristiwa mereka. Adat-istiadat dan ciri-ciri
masyarakat yang dikecam adalah yang timbul dan yang terdapat dalam
masyarakat tersebut.
Tetapi ini bukan berarti bahwa ajaran-ajaran Al-Quran hanya dapat diterapkan dalam masyarakat yang ditemuinya atau pada waktu itu saja. Karena yang demikian itu hanya untuk dijadikan argumentasi dakwah. Sejarah umat-umat
diungkapkan sebagai pelajaran/peringatan bagaimana perlakuan Tuhan terhadap
orang-orang yang mengikuti jejak-jejak mereka.
Sebagai suatu perbandingan, Al-Quran dapat diumpamakan dengan seseorang yang dalam menanamkan idenya serta tidak dapat melepaskan diri dari situasi atau kondisi masyarakat yang merupakan objek dakwah. Tentu saja metode yang digunakannya harus sesuai dengan keadaan, perkembangan dan tingkat kecerdasan objek tersebut. Demikian pula dalam menanamkan idenya, cita-cita itu tidak hartya sampai pada batas suatu masyarakat dan masa tertentu;
tetapi masih mengharapkan agar idenya berkembang pada semua tempat sepanjang masa.
Untuk menerapkan idenya itu, seorang da'i tidak boleh bosan dan putus asa. Dan dalam merealisasikan cita-citanya, ia harus mampu menyatakan dan
mengulangi usahanya walaupun dengan cara yang berbeda-beda. Demikian pula
ayat-ayat Al-Quran yang mengulangi beberapa kali satu persoalan. Tetapi
untuk menghindari terjadinya perasaan bosan, susunan kata-katanya --oleh
Allah SWT-- diubah dan dihiasi sehingga menarik pendengarannya. Bukankah
argumentasi-argumentasi Al-Quran mengenai soal-soal yang dipaparkan dapat
dipergunakan di mana, kapan dan bagi siapa saja, serta dalam situasi dan
kondisi apa pun?
Argumen kosmologis (cosmological argument) --yang oleh Immanuel Kant dikatakan sebagai suatu argumen yang sangat dikagumi dan merupakan salah satu dalil terkuat mengenai wujud Pencipta (Prime Cause)-- merupakan salah satu argumentasi Al-Quran untuk maksud tersebut. Bukankah juga penolakan Al-Quran terhadap syirik (politeisme) meliputi segala macam dan bentuk politeisme yang telah timbul, termasuk yang dianut oleh orang-orang Arab
ketika turunnya Al-Quran?
Dapat diperhatikan pula, bahwa tiada satu filsafat pun yang memaparkan
perincian-perinciannya dari A sampai Z dalam bentuk abstrak tanpa memberikan
contoh-contoh hidup dalam masyarakat tempat ia muncul atau berkembang. Cara
yang demikian ini tidak mungkin akan mewujud; kalau ada, maka ia hanya
sekadar merupakan teori-teori belaka yang tidak dapat diterapkan dalam suatu
masyarakat.
Tidakkah menjadi keharusan satu gerakan yang bersifat universal untuk
memulai penyebarannya di forum internasional. Tapi, cara paling tepat adalah
menyebarkan ajaran-ajarannya dalam masyarakat tempat timbulnya gerakan itu,
dimana penyebar-penyebarnya mengetahui bahasa, tradisi dan adat-istiadat
masyarakat tadi. Kemudian, bila telah berhasil menerapkan ajaran-ajarannya
dalam suatu masyarakat tertentu, maka masyarakat tersebut dapat dijadikan
"pilot proyek" bagi masyarakat lainnya. Hal ini dapat kita lihat pada
Fasisme, Zionisme, Komunisme, Nazisme, dan lain-lain. Dengan demikian, tidak
ada alasan untuk mengatakan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran itu khusus untuk masyarakat pada masyarakat tersebut.

Dari sejarah diturunkannya Al-Quran, dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Quran mempunyai tiga tujuan pokok: pertama, Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan. Kedua, petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif. Ketiga, petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, "Al-Quran adalah petunjuk bagi seluruh manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat."
Adapun menegenai fungsi asl-Qur’an tidak cukup dijelaskan hanya sebagai pedoman hidup kaum Muslimin atau manusia secara keseluruhan. Penjelasan seperti itu sangat umum. Diperlukan penjelasan yang lebih detail bagaimana fungsi Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia tersebut. Di bawah ini dijelaskan fungsi-fungsi Al-Qur’an dari perpektif kesadaran Taubikhiyah. Selain yang sudah umum diketahui, Al-Qur’an sebagai kitab yang diturunkan Allah SWT kepada manusia memiliki fungsi-fungsi abyan, burhan, ibtila’an, wujudian dan ‘iqaban. Adapun maksud istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut.
a. Fungsi Abyan
Abyan adalah Al-Qur’an berfungsi menjelaskan kebenaran yang masih diragukan, tidak dipercayai atau ditolak manusia. Misalnya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa sesuatu kaum yang menolak atau mendustakan kebenaran yang diturunkan Tuhan melalui para Nabi utusan Allah pasti akan mengalami kehancuran. Hal ini tercantum diantaranya dalam Q.S Al-A’raf (7) ayat 4 – 9: dan juga dalam Q.S Ali-Imran: 11.Atau Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa hancurnya lingkungan hidup itu adalah akibat ulah tangan-tangan manusia. Seperti termaktub dalam Q.S Ar-Rum: 41). Ini adalah fungsi-fungsi abyan (penjelasan dan peringatan) dari Al-Qur’an kepada manusia untuk mengimani kebenaran yang datang dari Allah SWT, Tuhan semesta alam.
b. Fungsi Burhân
Fungsi burhan adalah fungsi Al-Qur’an sebagai bukti yang menunjukkan kebenarannya yang nyata (jelas). Misalnya bencana gempa dan gelombang Tsunami di Aceh adalah burhan dari kekuasaan Allah yang sering kurang diimani oleh manusia dan sebagai hukuman serta peringatan karena manusia sudah jauh dari perintah-perintah Tuhan dan manusia sudah membuat kerusakan di muka bumi. Atau banjir besar yang terjadi adalah fungsi burhan Al-Qur’an karena kerusakan hutan yang dilakukan oleh manusia, dan korban serta kerusakan sangat banyak. Allah sudah memperingatkannya dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum:(30)41 di atas agar jangan membuat kerusakan di muka bumi sebab akibat dan kerugiannya akan dirasakan oleh manusia sendiri.
Contoh lain adalah ditemukan dan dikukuhkannya teori Big Bang yang menjelaskan awal mula terciptanya alam semesta sebagai teori yang paling kuat diterima di kalangan ilmuwan fisika, merupakan burhan dari Al-Qur’an surat Al-Anbiya(21)ayat 30: “Awalam yaralladzîna kafarû annasamâwâti wal ardha kânatâ ratqan, fafataqnâ huma, waja’alnâ minal mâ-i kulla sya’in hayyi, afalâ yu’minûn?” (Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah bersatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapakah mereka tiada juga beriman?). Eksperimen Maurice Bucaille dengan bangga menemukan dua buah laut ajaib yang tidak menyatu yang satu rasanya tawar dan yang satu lagi asin. Adanya laut itu sudah dinyatakan dalam Q.S Al-Furqan(25) ayat 53: “Wa huwalladzi marajal bahraini hâdza ‘adzbun furâtun wa hadza milhun ajâjun, wa ja’ala baina huma barzâkhan wa hijran mahjûra” (Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir, yang satu tawar lagi segar dan yang satu asin lagi pahit. Dan Dia jadikan diantara keduanya dinding dan batas pemisah yang menghalangi). Masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bukti-bukti kebenaran yang diragukan manusia atau bukti-bukti kebenaran yang ditemukan kemudian oleh manusia melalui teknologi modernnya. Semua itu menunjukkan fungsi burhan Al-Qur’an.
c. Fungsi Ibtilâ-an
Fungsi ibtilâ-an adalah meyakini dan mengimani kebenaran Al-Qur’an bahkan mengamalkannya tetapi terasa berat akibatnya sebagai resiko menerima dan menegakkan kebenaran. Menerima akibat yang berat dari mengimani kebenaran Al-Qur’an adalah salah satu langkah memahami kebenarannya. Misalnya, kita dibenci dan tidak disukai oleh lingkungan masyarakat karena kita mengamalkan ayat amar ma’ruf nahi munkar, atau mengamalkan ayat khaffat dan tsaqulats mawâzinuh. Resiko yang kita tanggung karena mengamalkan Al-Qur’an adalah fungsi ibtilâ’an atau ujian kepada kita. Atau kita meyakini kebenaran Al-Qur’an dan kita berusaha mengamalkannya tapi terasa hidup kita jadi berat, banyak godaan, banyak cobaan, sebagai bukti benarnya Al-Qur’an. Kita ingin hidup sesuai petunjuk Al-Qur’an dalam segala tindakan kita tetapi kita hidup kita jadi berubah, jadi tidak “biasa” karena kita sedang meningkatkan kesadaran yang tinggi sesuai kehendak Allah SWT. Kita jadi tidak “bebas” lagi, serba “terbatas,” serba terkontrol dst. Bila semua itu terjadi, dirasakan berat, adalah untuk menguji keteguhan iman kita. Inilah fungsi ibtilâ’an Al-Qur’an.
d. Fungsi Wujudian
Fungsi wujudian adalah pengakuan atau bukti-bukti kebenaran yang kita rasakan dari upaya mengamalkan Al-Qur’an. Akibat yang kita rasakan itu mendapat pengakuan dari atau diakui Al-Qur’an. Misalnya, kita banyak beribadah, rajin dan ikhlas, kemudian hidup kita ternyata jadi tenang, fikiran jernih, dada lapang dst. Apa yang kita rasakan itu adalah pengakuan Al-Qur’an (Al-Ra’du((13): 28) kepada kita, karena Al-Qur’an sendiri mengatakan: “Alâ bi dzikrillâhi tatma’innul qulûb” (Sesungguhnya banyak mengingat Allah itu membuat hati menjadi tentram). Atau misalnya, kita selalu berusaha hidup kita benar, banyak beramal, banyak beribadah, banyak infaq dan shadaqah. Intinya, kita berusaha mengamalkan ajaran agama semaksimal mungkin atau menjadikan agama sebagai pedoman kehidupan, lalu hidup kita makmur, rizki melimpah, ekonomi kita mapan. Nah, akibat yang kita rasakan ini adalah pengakuan Al-Qur’an (Q.S al-Thalaq.(65) : 2-3) bahwa bagi orang yang bertaqwa memang akan selalu datang rizki yang tidak diduga-dugaKetika merasakan kebenaran dan pengakuan Al-Qur’an ini, adalah salah satu langkah memahami Al-Qur’an
e. Fungsi Iqâban
Fungsi iqâban adalah ketika Al-Qur’an dibaca, Al-Qur’an itu sendiri malah menghujat, menggugat dan melaknat pembacanya. Al-Qur’an bisa menjadi hukuman (iqâban) bagi yang membacanya bila banyak ketidaksesuaian antara apa yang sering dibacanya dengan akhlaknya yang buruk, kesadaran hidupnya yang rendah dan banyak pelanggaran agama dalam kehidupannya. Fungsi iqâban ini ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w SAW: “Rubba tâlin lil qur’ân wal qur’ânu yal’anuhu” (Banyak orang yang membaca Al-Qur’an tetapi Al-Qur’an sendiri malah melaknatnya). Al-Qur’an justru melaknat yang membacanya bila banyak ketidaksesuaian antara ayat-ayat yang dihafal dan dikuasainya dengan perilaku dan sikapnya. Misalnya, perintah Al-Qur’an tentang melakukan zakat, infaq dan shadaqah dihafal dan sering dibaca tetapi ia tidak mengamalkannya, sifatnya pelit, kikir dan susah beramal. Seseorang tahu dan hafal ayat tentang perintah berlaku adil, jangan berdusta, bersikap jujur atau memperhatikan orang miskin, tapi kelakuannya sehari-hari justru sering menindas orang, sering bohong, tidak peduli terhadap orang miskin. Terhadap orang seperti ini Al-Qur’an melaknatnya. Apalagi bila menyerukannya kepada orang lain melalui ceramah dan dakwah, Allah sangat murka: “Kabura maqtan ‘indallâhi antaqûlu ma lâ taf’alûn” (Besar kemurkaan di sisi Allah bagi orang yang mengatakan (menyampaikan/memerintahkan sesuatu) tapi ia sendiri tidak melaksanakannya). Jadi, selain rajin membaca Al-Qur’an, seorang Muslim harus terus-menerus memperbaiki akhlak dan sikapnya agar sesuai dengan tuntunan agama Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an, agar Al-Qur’an tidak berfungsi sebagai iqâban (hukuman) kepada dirinya, sebaliknya agar menjadi rahmat dan penyelamat

3. Turunnya Al-Qur’an
Ditinjau dari latar belakangnya, turunnya Al-Qur’an dibagi menjadi dua macam :
a. Secara ibtida’i; yaitu ayat Al-Qur’an yang turun tanpa didahului oleh suatu sebab yang melatarbekanginya. Dan mayoritas ayat-ayat Al-Qur’an turun secara ibtida’i, diantaranya firman Allah ta’ala dalam surat al-Taubah (9)ayat 75:
Sesungguhnya ayat ini mula-mula turun untuk menjelaskan keadaan sebagian orang-orang munafiq. Adapun mengenai berita yang masyhur bahwa ayat-ayat ini turun berkaitan dengan Tsa’labah bin Hathib dalam suatu kisah yang panjang yang disebutkan oleh mayoritas ahli tafsir dan dikuatkan oleh mayoritas da’i (pemberi nasihat), merupakan riwayat yang dla’if (lemah) yang tidak dapat dibenarkan.
b. Secara sababi; yaitu ayat Al-Qur’an yang diturunkan didahului oleh suatu sebab yang melatarbelakangi. Sebab-sebab tersebut bisa berupa :
a. Pertanyaan yang dijawab oleh Allah ta’ala. Contohnya :
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنّاسِ وَالْحَجّ
”Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah : “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji” (Q.S. Al-Baqarah(2): 189).
b. Kejadian sebuah peristiwa yang membutuhkan penjelasan dan peringatan.
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنّ إِنّمَا كُنّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ
”Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab : “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja” (Q.S. At-Taubah(9): 65).
Dua ayat di atas turun berkenaan dengan seorang laki-laki dari golongan munafik yang berkata dalam suatu majelis pada waktu perang Tabuk : “Kami tidak melihat orang semisal pembaca Al-Qur’an kita ini, mereka paling besar perutnya, paling dusta lisannya, dan paling penakut ketika bertemu dengan musuh”. Yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat beliau. Kemudian hal itu sampai terdengar oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, kemudian turunlah ayat Al-Qur’an. Kemudian laki-laki tersebut dating kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk meminta maaf kepadanya, maka beliau menjawab dengan memebacakan firman Allah ta’ala :
أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ
”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, danRasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (Q.S. At-Taubah (9): 65).
c. Adanya suatu permasalahan yang membutuhkan penjelasan hukumnya. Contohnya :
قَدْ سَمِعَ اللّهُ قَوْلَ الّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِيَ إِلَى اللّهِ وَاللّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمآ إِنّ اللّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
”Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Q.S. Al-Mujaadilah (58): 1).
Ditinjau dari cara turunnya, Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan Malaikat Jibril selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dalam proses pewahyuannya, terdapat beberapa cara untuk menyampaikan wahyu yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, diantaranya:
• Malaikat Jibril memasukkan wahyu ke dalam hati Nabi. Dalam hal ini, Nabi tidak melihat sesuatu apapun, hanya merasa bahwa wahyu itu sudah berada di
dalam kalbunya. Mengenai hal ini, Nabi mengatakan: Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam kalbuku
• Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi menjadi seorang lelaki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga Nabi mengetahui dan dapat menghafal kata-kata itu.
• Wahyu datang kepada Nabi seperti gemerincingnya lonceng. Cara ini dirasakan paling berat bagi Nabi. Kadang pada keningnya berkeringat, meskipun turunnya wahyu di musim dingin. Kadang unta Baginda Nabi terpaksa berhenti dan duduk karena merasa berat bila wahyu turun ketika Nabi sedang mengendarai unta.
• Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki, tetapi benar-benar sebagaimana rupa aslinya
4. Pokok-pokok Kandungan al-Quran
Kandungan al-Quran yang utama dan terpenting ialah tentang akidah (teologi) atau lazim disebut ushuluddin, ilmu kalam dan terutama tauhid.Menurut Muhammad Qutub,topik utama dan paling mendasar dalam al-Quran ialah soal akidah. Ia menyebutnya sebagai mudhu’un asasiyyun, obyek yang paling asasi. Ini tidak berarti persoalan-persoalan lain yang ada dalam al-Quran boleh dianggap tidak penting. Akidah menempati tempat yang paling asasi namun ia tidak cukup bila tidak disertai dengan hal-hal lainnya.
Tingginya kedudukan akidah dalam islam, antara lain tampak dalam dalam al-Quran, dimana di dalamnya terdapat sekitar 136 ayat al aqaid ,menempatkan akidah sebagai topik pembahasan yang paling asasi. Hampir atau bahkan tidak ada kelompok ayat al-Quran dalam jenis apapun yang tidka mengkaitkan pembahasannya dengan masalah-masalah akidah islamiyah.Indikasi tersebut tampak antara lain adalah ayat pertama yang turun (al Alaq) menyiratakan urgensi iptek melalui simbol membaca (studi), namun tidak dapat disangkal tekanan akidah atau pancaran teologi yang tersimbulkan adlam lafal rabbuk, sebagai Dzat Maha Cipta dan Maha Guru. . Selain itu, sejarah ilmu-ilmu al-Quran telah menunjukkan dengan jelas bahwa surat-surat dan ayat-ayat al-Quran yang diturunkan lebih dulu adalah kelompok surat dan ayat Makkiyyah yang pada umumnya berisi maslah akidah dan akhlak, bukan ayat hukum sebagaimana terdapat dalam surat Madaniyyah yang turun belakangan. Dari hal ini mengisyaratkan didahuklukannya soal akidah dari masalah lainnya, karena ia merupakan dasar pondamen dan tiang penyangga yang di atsnya didirikan syariat yang kokoh dan indah. Indikasi lainnya adalah, ayat al-Quran yang bertemakan bidang apapun selalu terkait dan dikaitkan dengan aspek akidah, yang penempatannya diletakkan sebelum dan atau sesudah.
Pokok kandungan kedua dalam al-Quran adalah ibadah. Dalam al-Quran terdsapat sekitar 140 ayat yang berisikan ihwal ibadah(ayat al-ibadat). Seperti halnya ayat al-aqaid, ayat al-ibadat pada umumnya juga bersifat jelas, tegas, rinci.Ditegaskan dalam Al-Quran dalam surat Al-Dzariyyat (51):56, bahwa tujuan utama dan pertama dari penciptaan jin dan manusia di bumi adalah agar mereka beribadah kepada Allah Swt.Dan sesuai dengan ayat tersebut, maka tujuan ibadah tersebut adalah untuk mendidik para pelakunya menjadi orang-orang yang taqwa sebagaimana tertera dalam Qur’an surat Al Baqarah(2) ayat 21.
Isi kandungan al-Quran lainnya yang juga berperan penting bagi kehidupan manusia ialah janji baik dan ancaman buruk, yang familiar diistilahkan oleh ulama tafsir dengan al-wa’du wdan al-wa’id.Janji dna ancaman ini terasa penting menginmgat dalam realitanya, karakteristik manusia menyenangi janji baik dan memperhatikan ancaman buruk. Menurut Zuhaili, keberadaan ayat dengan kandungan semacam ini berjumlah sekitar seribu ayat. . Urgensi al wa’du dan al-wa’id akan semakin nyata dampaknya jika terkait dengan kalangan awam, bahkan komunitas khawas sekalipun.
Pokok kandungan al-Quran selanjutnya adalah akhlak, atau dalam istilah lain etika/moral. Aspek ini merupakan isi kandungan al-Quran yang sangat mendasar, mengingat di antara tujuan utama dari kenabian dan kerasulan Nabi adalah menyempurnakan aklak dan sebagaimana dinyatakan oleh al-Qur’an, karena komitmen akhlaknya yag sangat agung, beliau layak dan wajib dijadikan uswatun hasanah bagi umatnya.
Isi kandungan al-Qur’an selanjutnya adalah hukum. Al-Quran, sebagaimana disepakati umat islam, memuat sejumlah ketentuan hukum dan sekaligus menyinggung kaidah-kaidah umum pembentukannya. Antusiasme al-Qur’an terhadap paradigma hukum tersebut antara lain dapat ditelusuri melalui indikator berikut: pertama, al –Qur’an menjuluki dirinya sendiri dengan hukum Penamaan al-Qur’an dengan hukum, menurut Maraghi, karena di dalamnya terdapat keterangan tentang hukum halal-haram, serta seluruh ketentuan yang dibutuhkan orang-orang mukallaf untuk meraih kebahagiaan dunia dan di akhirat. . Kedua,surat dna ayat terpanjang dalam al-Quran ialah surat dan ayat hukum. Surat yang dimaksud ialah surat al-Baqarah(2) yang terdiri atas 287 ayat, 3100 kata dan 25.000 huruf. Adapun ayat terpanjang ialah ayat 282 dlam suart al Baqarah, yang terdiri atas 128 kata dan 504 huruf.
Kisah, merupakan isi kandungan lain dalam al-Qur’an. Al-Quran sangat antusias terlihat dari indikator sebanyak 26 kali kata qashas dan yang seakar dengannya tersebar dalam 12 surat dan 21 ayat. Juga terdapatnya satu surat khusus yang dinamakan surat al-Qashas.amat banyaknya jumlah ayat al Qashas, yakni surat ke -28 yang terdiri 88 ayat, 1.441 kata dan 5800 huruf .
Pengungkapan kisah dalam al –Qur’an jelas meupakan kisah yang yata benar dan manfaatnya bagi manusia, yaitu antara lain sebagai ibrah dan mendorong mereka untuk berfikir.
Salah satu isi kandungan al-Quran yang juga penting adalah tentang dipotretnya manifestasi jagat raya ini, termasuk proses pembuatan bumi, planet, proses kejadian manusia dan tanda-tanda hukum alam yang sarat akan nilai ilmu pengetahuan dan teknologi. Indikator urgensinya iptek ini tampak dri ayat yang pertama kali turun yang menyiratkan arti pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilambangkan dengan kegiatan membaca dan menulis. Sebab dalam kenyataannya, pengembangan ilmu pengetahuan an teknologi harus melewati tahap tersebut.Namun sekalipun dalam al-Qur’an dapat disebut sumber IPTEK, menurut al Zarqani, al-Quran haruslah tetap dipandang sebagai kitab hidayah dan buku mu’jizat dibandingkan disebut sebagai buku ilmu pengetahuan dan teknologi.
Demikianlah beberapa pokok isi kandungan al-Quran. Menurut Abduh dan beberapa ulama tafsir, antara al-Maraghi dan al -Qasimi, semua aspek tadi secara garis besar telah terekam dalam surat al-Fatihah.
C. Penutup
Sebagaimana diuraikan di muka, depat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut. Pertama, al-Quran ditinjau dari anatominya baik dari aspek pengertian, tujuan dan fungsi, turunnya serta pokok-pokok isi kandungannyan, kesemuanya menampakkan kesempurnaan dan keistimewaan al-Quran.Kedua, kesempurnaan dan keistimewaan al -Qur’an tersebut bukanlah sebagai monumen yang sudah tidak bisa dikembangkan, namun menunjukkan isyarat kuat untuk terus menjaga kesempurnaan dan keistimewaannya lewat penjagaan, pengembangan ilmu dan amal sebagaimana dicontohkan Nabi dan ulama-ulama yang berkomitmen dalam bidang terkait.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran dan terjemahannya, Depag RI

Djalal, Abdul, Prof. Dr.H, Ulumul Qur’an,Surabaya:Dunia Ilmu, 1998


Khallaf, Abdul al- Wahhab, ‘Ilm Usshul al-Fiqh, Jakarta-Indonesia, Al Majelis al-’a’la li-Syuun al-Da’wah al-islamiyyah, 1973

Maraghi, Ahmad Musthafa, al, Tafsir al-Maraghi, j.5, Beirut-Lubnan, dar Fikr, 1394 H/1974 M


Nasution, Harun , Akal dan Wahyu, Jakarta, UI Prress, 1982

Qattan, Manan, al, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Jakarta: Lentera Antar Nusa, 2001

Shalih, Subhi, al, Mabahits I ulum al-Quran, Beirut Lubnan:Dar al ‘Ilm li
al-Malayin, 1988, h.21

Shihab, Quraish, M., Membumikan al-Qur’an:fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat, Bandung: Mizan, 1994

Suma, Muhammad Amin, H, Studi Ilmu-ilmu al-Quran, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2000

Quthub,Muhammad, Dirasat Qur’aniyyah, Beirut-Lubnan, Dar al-Syuruq, 1400H/1980 M

Zuhayli, Wahbah, al, Al-Tafsir al-Munir fi al-syari’ah wa al-‘aqidah wa al-manhaj, j 1, Beirut-Lubnan, 1411H/1991 M










MENGENAL LEBIH DEKAT ANATOMI
AL –QUR’AN




Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas individu
Mata Kuliah Studi Ilmu Qur’an
Dosen / Guru Besar Pengampu. Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag.




















Disusun oleh
Ni’mah Afifah


PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
PROGRAM PASCA SARJANA
UIN SUNAN KALIJAGA
2009




























zaman, tempat dan bangsa.
2. Susunan ayat yang mengagumkan dan mempengarihi jiwa pendengarnya.
3. Dapat digunakan sebagai dasar pedoman kehidupan manusia.
4. Menghilangkan ketidakbebasan berfikir yang melemahkan daya upaya dan
kreatifitas manusia (memutus rantai taqlid).
5. Memberi penjelasan ilmu pengetahuan untuk merangsang perkembangannya.
6. Memuliakan akal sebagai dasar memahami urusan manusia dan hukum-hukumnya.
7. Menghilangkan perbedaan antar manusia dari sisi kelas dan fisik serta
membedakan
membedakan manusia hanya dasi takwanya kepada Allah SWT.














Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok
Al-Quran
10. groups.google.co.id/group/myquran/msg/4779449e63fe3d75 - Tembolok

Agama Islam, agama yang kita anut dan dianut oleh ratusan juta kaum Muslim
di seluruh dunia, merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup
pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi utama yang
esensial: berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Allah
berfirman, Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk menuju jalan yang
sebaik-baiknya (Q.S, 17:9).
Al-Quran memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syariah, dan
akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsip mengenai
persoalan-persoalan tersebut; dan Allah SWT menugaskan Rasul saw., untuk
memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu: Kami telah
turunkan kepadamu Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu terangkan kepada manusia
apa-apa yang diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir (Q.S 16:44).
Disamping keterangan yang diberikan oleh Rasulullah saw., Allah
memerintahkan pula kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan dan
mempelajari Al-Quran: Tidaklah mereka memperhatikan isi Al-Quran, bahkan
ataukah hati mereka tertutup (Q.S 47:24).
Mempelajari Al-Quran adalah kewajiban. Berikut ini beberapa prinsip dasar
untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan Al-Quran dengan ilmu
pengetahuan. Atau, dengan kata lain, mengenai "memahami Al-Quran dalam
Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan."( Persoalan ini sangat penting,
terutama pada masa-masa sekarang ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan
demikian pesat dan meliputi seluruh aspek kehidupan.
Kekaburan mengenai hal ini dapat menimbulkan ekses-ekses yang mempengaruhi
perkembangan pemikiran kita dewasa ini dan generasi-generasi yang akan
datang. Dalam bukunya, Science and the Modern World, A.N. Whitehead menulis:
"Bila kita menyadari betapa pentingnya agama bagi manusia dan betapa
pentingnya ilmu pengetahuan, maka tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa
sejarah kita yang akan datang bergantung pada putusan generasi sekarang
mengenai hubungan antara
keduanya."6
Tulisan Whithead ini berdasarkan apa yang terjadi di Eropa pada abad ke-18,
yang ketika itu, gereja/pendeta di satu pihak dan para ilmuwan di pihak
lain, tidak dapat mencapai kata sepakat tentang hubungan antara Kitab Suci
dan ilmu pengetahuan; tetapi agama yang dimaksudkannya dapat mencakup
segenap keyakinan yang dianut manusia.
Demikian pula halnya bagi umat Islam, pengertian kita terhadap hubungan
antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan akan memberi pengaruh yang tidak kecil
terhadap perkembangan agama dan sejarah perkembangan manusia pada
generasi-generasi yang akan datang.
Periode Turunnya Al-Quran


















Manusia
memberikan perumpamaan bagi kami dan lupa akan kejadiannya, mereka berkata:
"Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk dan
hancur?" Katakanlah, wahai Muhammad: "Yang menghidupkannya ialah Tuhan yang
menjadikan ia pada mulanya, dan yang Maha Mengetahui semua kejadian. Dia
yang menjadikan untukmu, wahai manusia, api dari kayu yang hijau (basah)
lalu dengannya kamu sekalian membakar." Tidaklah yang menciptakan langit dan
bumi sanggup untuk menciptakan yang serupa itu? Sesungguhnya Ia Maha
Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allah menghendaki sesuatu Ia
hanya memerintahkan: "Jadilah!"Maka jadilah ia(Q.S 36:78-82).

Q.S Al-A’raf ayat 4 – 9: “Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Maka tidak ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang dzalim”. Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami), maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka). Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” Kemudian, “Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang kafir” (Q.S Al-A’raf: 101).
Contoh lain misalnya kehancuran dinasti Fir’aun, sebuah dinasti yang sangat berkuasa dan berlaku sombong melebihi kekuasaannya sebagai manusia dihancurkan oleh Allah seperti dikisahkan dalam Al-Qur’an. “Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan” (Q.S Al-Baqarah: 50). “(Keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya” (Q.S Ali-Imran: 11).
Atau Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa hancurnya lingkungan hidup itu adalah akibat ulah tangan-tangan manusia. “Dzaharal fasâdu fil barri wal bahri bimâ kasabat aydinnâsi, liyudzîqahum ba’dzalladzî ‘âmilu, la’allahum yarji’ûn” (Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S Ar-Rum: 41). Ini adalah fungsi-fungsi abyan (penjelasan dan peringatan) dari Al-Qur’an kepada manusia untuk mengimani kebenaran yang datang dari Allah SWT, Tuhan semesta alam.
kalangan ilmuwan fisika, merupakan burhan dari Al-Qur’an surat An-Anbiya ayat 30: “Awalam yaralladzîna kafarû annasamâwâti wal ardha kânatâ ratqan, fafataqnâ huma, waja’alnâ minal mâ-i kulla sya’in hayyi, afalâ yu’minûn?” (Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah bersatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapakah mereka tiada juga beriman?). Eksperimen Maurice Bucaille dengan bangga menemukan dua buah laut ajaib yang tidak menyatu yang satu rasanya tawar dan yang satu lagi asin. Adanya laut itu sudah dinyatakan dal Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk menuju jalan yang
sebaik-baiknya (Q.S, 17:9).
am Q.S Al-Furqan ayat 53: “Wa huwalladzi marajal bahraini hâdza ‘adzbun furâtun wa hadza milhun ajâjun, wa ja’ala baina huma barzâkhan wa hijran mahjûra” (Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir, yang satu tawar lagi segar dan yang satu asin lagi pahit. Dan Dia jadikan diantara keduanya dinding dan batas pemisah yang menghalangi). Masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bukti-bukti kebenaran yang diragukan manusia atau bukti-bukti kebenaran yang ditemukan kemudian oleh manusia melalui teknologi modernnya. Semua itu menunjukkan fungsi burhan Al-Qur’an.


surah Al-Baqarah ayat
216-221, yang mengatur hukum perang dalam asyhur al-hurum berurutan dengan
hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim, dan perkawinan dengan
orang-orang musyrik.
Yang demikian itu dimaksudkan agar memberikan kesan bahwa ajaran-ajaran
Al-Quran dan hukum-hukum yang tercakup didalamnya merupakan satu kesatuan
yang harus ditaati oleh penganut-penganutnya secara keseluruhan tanpa ada
pemisahan antara satu dengan yang lainnya. Dalam menerangkan masalah-masalah
filsafat dan metafisika, Al-Quran tidak menggunakan istilah filsafat dan
logika. Juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Yang
demikian ini membuktikan bahwa Al-Quran tidak dapat dipersamakan dengan
kitab-kitab yang dikenal manusia.
Katakanlah (Muhammad): "Wahai ahli kitab (golongan
Yahudi dan Nasrani), marilah kita menuju ke satu kata sepakat diantara kita
yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidak mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu apa pun, tidak pula mengangkat sebagian dari kita tuhan yang bukan
Allah." Maka bila mereka berpaling katakanlah: "Saksikanlah bahwa kami
adalah orang-orang Muslim" (Q.S 3:64).
Dakwah menurut Al-Quran
الصّالِحِينَ
”Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah; sesungguhnya Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bershadaqah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shalih” (Q.S. At-Taubah




Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk menuju jalan yang
sebaik-baiknya (Q.S, 17:9).
Perhatikan firman-Nya: Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan
sampaikanlah. Dan Tuhanmu agungkanlah. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah
kotoran (syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima
lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah
Tuhanmu (Q.S 74:1-7).
QS al Qiyamah (75) ayat 17, 18., Tanzil(Q.S Al Haaqoh(68):43), Q.S Al- Anbiya(21):50)., .S al Hijr (15) :9,
Q.S Al Mudatsir (74)::1-7)., Perhatikan firman-Nya: Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan
sampaikanlah. Dan Tuhanmu agungkanlah. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah
kotoran (syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima
lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah
Tuhanmu (Q.S 74:1-7).

(Q.S Al- Muzammil( 73):1-4)., Dalam wahyu ketiga terdapat pula bimbingan untuknya: Wahai orang yang
berselimut, bangkitlah, shalatlah di malam hari kecuali sedikit darinya,
yaitu separuh malam, kuranq sedikit dari itu atau lebih, dan bacalah
Al-Quran dengan tartil
Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu
wahyu yang sangat berat (Q.S 73:5).
(Q.S Al-Syuara(’26):214-216 Berilah peringatan kepada keluargamu
yang terdekat. Rendahkanlah dirimu, janganlah bersifat sombong kepada
orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu)
enggan mengikutimu, katakanlah: aku berlepas dari apa yang kalian
kerjakan(Q.S 26:214-216).
Q.S Al Nahl (16:125.
Q.S Al-taubah (9):13-14, Q.S Al-maidah (5):90-91). Q.S Al-nuur(24):27. .S Al Ma’idah (3):139-140,Q.S Al-A’raf (7) ayat 4 – 9: dan juga dalam Q.S Ali-Imran: 11
surat Al-Anbiya(21)ayat 30: “Awalam yaralladzîna kafarû annasamâwâti wal ardha kânatâ ratqan, fafataqnâ huma, waja’alnâ minal mâ-i kulla sya’in hayyi, afalâ yu’minûn?” (Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah bersatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya, dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapakah mereka tiada juga beriman?). Eksperimen Maurice Bucaille dengan bangga menemukan dua buah laut ajaib yang tidak menyatu yang satu rasanya tawar dan yang satu lagi asin. Adanya laut itu sudah dinyatakan dalam Q.S Al-Furqan(25) ayat 53: “Wa huwalladzi marajal bahraini hâdza ‘adzbun furâtun wa hadza milhun ajâjun, wa ja’ala baina huma barzâkhan wa hijran mahjûra” (Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir, yang satu tawar lagi segar dan yang satu asin lagi pahit. Dan Dia jadikan diantara keduanya dinding dan batas pemisah yang menghalangi)
Qur’an (Al-Ra’du((13): 28) kepada kita, karena Al-Qur’an sendiri mengatakan: “Alâ bi dzikrillâhi tatma’innul qulûb” (Sesungguhnya banyak mengingat Allah itu membuat hati menjadi tentram). Atau misalnya, kita selalu berusaha hidup kita benar, banyak beramal, banyak beribadah, banyak infaq dan shadaqah. Intinya, kita berusaha mengamalkan ajaran agama semaksimal mungkin atau menjadikan agama sebagai pedoman kehidupan, lalu hidup kita makmur, rizki melimpah, ekonomi kita mapan. Nah, akibat yang kita rasakan ini adalah pengakuan Al-Qur’an (Q.S al-Thalaq.(65) : 2-3)
surat al-Taubah (9)ayat 75

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar